Home » » Kasih Sayang Bintang kepada Bulan 2

Kasih Sayang Bintang kepada Bulan 2

Kasih Sayang Bintang kepada Bulan 2
Oleh Afzender Irvan Romadhan


     Nyaman... mungkin itu adalah satu-satunya kata yang dapat menggambarkan suasana hatiku saat ku pandang raut wajah anggunnya itu. Karena begitu sulit untuk melukiskan perasaanku ini dengan kata-kata.

     Bulan.. ya, sebut saja dia Bulan. Seorang cewek yang mampu membuatku mengerti, "Betapa indahnya ciptaan Tuhan itu." Mungkin terlalu berlebihan, namun memang inilah yang aku rasakan.

     Di waktu istirahat maupun tak ada guru, lebih banyak ku habiskan hanya untuk memandang foto wajahnya. Sebuah tanda yang menghiasi pipi kirinya semakin menambah pesona pada dirinya. Ditambah tingkahnya yang lucu membuatku tak pernah jenuh tuk terus memperhatikannya.

     Hari-hari terus berganti, dan rasa itu semakin bertambah besar. Sebuah rasa yang tak bisa ku tuangkan dalam kata-kata. Awalnya aku hanya berniat tuk menyimpan rasa ini, karena aku merasa tak pantas untuk dia. Dia terlalu sempurna untukku. Namun entah angin dari mana yang membuatku berubah arah. Berubah untuk dari sekedar mengagumi menjadi keinginan untuk memiliki. Ya, memiliki hati dan cintanya.

     Mulai ku coba mendekatinya, walau hanya melalui SMS. Aku terlalu malu untuk berbicara langsung kepadanya. Seperti yang ku pikirkan, tak mudah untuk mendekatinya. Sikapnya begitu beku saat pertama kali ku kirim SMS padanya. SMS yang ku kirim hanya dibalas dengan kata-kata "Iya", "Ohh", "Gak juga". "Ya Allah, begitu cuekkah bidadarimu ini??" jeritku dalam batin.

     Ya namanya juga cinta. Secuek dan sedingin apapun dia padaku, niat ku ini tak akan terhenti. Hari demi hari terus ku coba tuk mendekatinya. Lewat perhatian dan motivasi yang sengaja ku kirim kepadanya untuk memberikan sinyal bahwa aku menyayanginya. Dan berharap dia juga memiliki rasa yang sama terhadapku. Aku tak mengerti pada diriku, aku yang dulunya kaku dan tak pernah bisa romantis terhadap cewek kini berubah. Aku mampu merangkai kata-kata untuk ku jadikan sebuah puisi untuknya, walaupun masih begitu sederhana.

     Hari demi hari terlewati, hubungan kami semakin dekat dan aku mulai mendapatkan sinyal positif dari usahaku selama ini. Dia yang awalnya begitu cuek kini mulai memberikan perhatian lebih padaku. Itu berawal dari pesan singkat yang ia kirim padaku di suatu siang,

"Bintang, uda maem?". Aku cukup terkejut saat itu.
Lalu aku jawab dengan, "Alhamdulillah udah. Emmm, tumben banget perhatian sama aku?"
"Memangnya salah ya?" Jawabnya.
"Enggak sih, malah Aku senang kok" Jawabku lagi.

     Sejak itu dia semakin menunjukkan bahwa dia juga memiliki rasa yang sama terhadapku. Dan tentunya aku juga semakin berani memberikan perhatian kepadanya, tanpa memberitahu perasaanku yang sebenarnya kepada dia. Sempat terbesit dalam benak ingin memiliki hatinya, dengan cara menembak dia.

"Hah? Nembak? Emangnya dirimu berani tang? Emangnya dirimu bisa tang? Dan kalaupun berani dan bisa, apa dia mau nerimamu? Nyadar donk kalau kamu ini gak ada apa-apanya dibandingkan dengan cowok-cowok lain yang lagi PDKT juga sama dia." Gumamku dalam hati.

      Tapi kalau belum dicoba bagaimana bisa tahu jawabannya. "Sekali layar terkembang surut kita berpantang". Sejak itu aku mulai menyusun strategi bagaimana cara untuk nembak dia. Mulai dari kata-kata, properti bantuan dan suasana. Tapi selalu menemui jalan buntu.

     Seperti biasa aku SMS-an sama si dia, bidadari bagi seorang Bintang. Setelah beberapa menit SMS-an entah kerasukan hantu dari mana aku berani mengirim SMS yang untuk pertama kalinya menunjukkan secara terang-terangan bahwa Aku cinta padanya.

"Emmm, Bulan. Sebenarnya Aku Cinta sama seorang cewek, dan pengen ngungkapin perasaan Bintang ke dia. Tapi Bintang masih malu. bagaimana kalau dia cuek cuek aja 😣" Ungkapku melalui SMS.
"Emangnya cinta sama siapa sih? Kalau belum dicoba gimana bisa tahu." Jawabnya.
"Bener juga sih, kalau belum dicoba pasti gak bakalan tahu". sambutku lagi.
"Kalau Aku boleh tahu cewek yang kmu cintai itu siapa sih?" tanyanya penasaran.
"Emmm, entar kalau bulan tahu Bintang takut bulan membuang mentahh mentah dan gak percaya." Jawabku dengan perasaan malu bercampur takut bila dia tahu yang sebenarnya.
"Kasih tau donk. Bulan janji bakal percaya dan gak marah kok tang". Bujuknya.
Aku pun mengalah, "Cewek itu......... bulan, iya dia yang aku kagumi dari dulu, dia bisa merubah sikapku."
"Yang bener tang?" tanya ragu.
"Iya, apa perlu bintang ngebuktiin ini semua di depan temen-temen satu kelas?" Jawabku tanpa ragu.
"Hah? Abis ngebales apaan kau tang? Apa gak salah tuh? Di depan temen-temen satu kelas? One by One aja kau belum tentu berani." Tanyaku dalam hati, seakan tak percaya dengan SMS yang ku kirim padanya.

      Di saat itu juga aku merasa seakan darahku mengalir lebih cepat, jantungku berdetak semakin kencang. Menanti apakah kira-kira jawaban darinya.
"Sebenernya bulan juga cinta sama bintang". Jawab dia.
"Beneran?". Jawabku singkat seakan tak percaya apa yang saat itu aku baca. Hatiku bagai melompat-lompat kegirangan

     Hari-hari terus berganti. Aku mulai mendapatkan kata-kata yang akan aku ucapkan saat aku menembaknya nanti dan yang paling terpenting, sebuah keberanian. Hanya tinggal menunggu waktu dan suasana yang tepat saja.

    30 Agustus 2014, awalnya biasa saja bagiku. Namun setelah di waktu malam minggu aku terus bercanda dengan dia lewat sms, aku akan memastikan sampai dia bnar bnar cinta sma aku, dan disaat itu lah aku berkata dengan dia lewat sms,
"Bulan, aku nyaman dengan kamu, aku bisa brubah karnamu aku ingin katakan yang blum pernah aku katakan terhadap cwe yang sperti kmu yang susah dicari yang gk mudah didapat,
.
.
.
.
Aku sayang kamu, iya aku bnar sayang sma kmu" didalam hatiku apa Bulan punya perasaan yang sma terhadapku, terhadap bintang yang kaya gini gini aja, gak pinter jugak sedangkan bulan pinter.
Gak lama kemudian hpku bergetar dan aku berharap itu bulan yang sms.
"Bintang, ☺aku juga sudah memndam rasa untukmu, kmu laki laki yang beda dri yang lain, aku seneng bisa knal kmu. Aku juga sayang kamu" jawab Bulan.
Disaat malam minggu itulah aku sangat senang dan mengawali cerita indah bersama sang bulan, seorang cwe sederhana, pinter, sholehah, manis, senyumannya sangat membuatku merinding.

     Kamipun melalui hari-hari berikutnya dengan status yang berbeda, Saling menyayangi. Betapa beruntungnya aku memilikimu!. Namun seperti kata pepatah, "Tak ada gading yang tak retak", "Tak ada Bisul yang tak bengkak", dan "Tak ada tuyul yang tak botak". Kisah cinta kamipun tak selalu berjalan mulus. Kami juga sempat dilanda masalah, namun kekuatan cinta selalu membuat kami bersama kembali. Aku menyayanginya, begitu juga dia. Aku berharap bukan orang ketiga atau masalah-masalah lainnyalah yang membuat kami berpisah. Namun hanya keadaan di mana salah satu dari kami tak mampu lagi tuk bernafas.

      Kami selalu menjadikan setiap masalah yang kami hadapi menjadi sebuah pelajaran yang terbaik untuk kami. Pelajaran untuk saling mengerti, memahami, dan saling menjaga hati, kami berbagi pengalaman, dan sampai sekarang, dialah isi semua puisi, cerita, dan nyanyian yang ku kumandangkan setiap hari, dialah bidadariku, Dia sudah disekap oleh bintang didalam hatinya sampai nanti.

Bersambung
Af.L

0 comments:

Post a Comment